Thursday, August 30, 2018

Bara ciek uda?

Hari ini tepat sebulan gue jadi mahasiswa Unila.

Ada banyak hal yang gue rasa beda dibanding semasa gue kuliah S1 dulu.
Ya jelas, output Pendidikan ini kan buat jadi guru profesional.
Jadi inner circle di dalamnya jelas banget orang-orang terpilih.
ehem, bukan maksud gue banggain diri loh ya..
Tapi serius deh, ibarat dulu S1, skrg gue sekelas sama 19 orang bara.

Bara temen gue kuliah dulu, dia selalu jadi terbaik setiap yudisium semester.
Bayangin kalau sekelas ada 20 mahasiswa, 1 nya elo dan sisa 19 nya adalah bara.
Ya mau ga mau harus banting tulang untuk bisa memumpuni itu.
Sedangkan 4 tahun terkakhir kerjaan gue di kelas cuma leyeh-leyeh.

Dibalik perjuangan banting tulang itu, ada banyak hal positif yang gue dapet.
Sekarang, selama di kelas gue udah bisa nahan ngantuk.
Sekarang, selama di kelas gue selalu duduk di barisan paling depan. (paling engga ada semangat belajar lah yah haha).
Jadi aktif di kelas, kalau aktif woro2 emang udah dari dulu sih haha Tapi ini aktif in a good way kok.
Berperan aktif setiap ada tugas kelompok.
Berperan aktif setiap ada diskusi di kelas.

Yes, i never feel more productive like this before.

tapiiiii.. emang bener sih pengaruh lingkungan terhadap gaya hidup kita itu nyata adanya.
sekarang, suasana belajar di kelas jauh lebih demokrasi dibanding dengan gue s1 dulu.
kalau dulu malah jauh dari kata demokrasi, uhuk.
emang sih kampus gue dulu ga menjanjikan akademik sebagai oleh2 yang dibawa lulusannya.
lebih ke sikap, sikap menghadapi masa lalu yang suram eaa, no bukan itu.

Sikap selalu siap menghadapi keadaan baru.
Sikap cekatan terhadap perubahan iklim yang ekstrim. (mulai ga jelas)
atau bahkan sikap untuk menghargai sesama.

intinya, gue selalu berharap bahwa movement ini akan menghasilkan produk yang berguna bagi masyarakat.

note: judul diatas gada sangkut pautnya dengan isi tulisan ini.
judul diatas diambil dari bahasa minang yang artinya (satu harganya berapa uda?).
Uda adalah panggilan untuk laki2 yang lebih tua dari kita.
walaupun gue nyeritain bara di tulisan bukan berarti sama arti dengan yang di judul.
Sekian.

Sunday, August 05, 2018

Mikha

Mikha

Mikha kucing yang ceria.
warna bulu dia oranye.
Dia datang kerumah dalam keadaan luka.
kaki depan yang patah, dan tulang leher yang sedikit geser.
Agak sedih ngeliatnya.
Gue mengira dia adalah korban tabrak lari.

Seperti biasa gue bangun pagi cuma buat anter adek2 sekolah.
Setelah itu tidur lagi sampe jam 12, begitu dan seterusnya.
Iya, gue lagi ga kerja. Gue lg nunggu pengumuman beasiswa.
siang itu pas keluar rumah gue liat kucing kecil dengan kondisi mata yang penuh dengan kerak.
Ditambah lagi jalannya yang engga sempurnya.

Gue perhatiin kayaknya ini kucing abis ketabrak.
Kasian.

Gue mau rawat kucing itu tapi bokap pasti marah karena katanya bawa penyakit.
Yaudah gue ambil tutup galon isi ulang dan gue kasih air buat dia minum.
Tapi engga mau.
Gue tau dia kayak pengen ngomong sesuatu tapi gabisa :(.

Keesokan harinya sepulang gue anter ajeng kerja nyokap bilang kalau kucingnya mati.
Gue kaget dong, gue lihat kucing nya dan ternyata engga.
Kondisinya emang udah kacau banget, matanya udah gabisa melek karena kerak yang terlalu tebal.
Gue ambil peralatan seadanya dan gue bersihin kucing ini.
See, dia cakep kan :).




Gue kasih nama dia Mikha... Nanti di akhir cerita gue ceritain deh kenapa.

Oiya mikha ini kucing korban tabrak lari.
Kondisi kaki kiri depannya patah.
Dan tulang lehernya sedikit geser.

Setelah gue bersihin dia gue beli makanan kucing di minimarket.
Gue beli yang basah, gue kasih ke dia ternyata makannya lahap.
Dan dia juga udah mau minum.

Sampai empat hari gue mampu kasih dia makanan basah, setelah itu gue cuma bisa beli makanan kering.
Walaupun agak susah buat makannya, gue kasih air sereal kucing itu biar dia gampang ngunyah nya.
Hari makin hari mikha menunjukan perkembangan.
Dia udah bisa lompat2.
Mikha juga kucing yang pintar, selama proses healing gue taro mikha di kandang buatan berbahan kardus.
Walaupun gerak terbatas, dia selalu keluar dari kandang kardus itu buat pup dan pee.

Sampai akhirnya gue liat kalau mikha udah ga sanggup buat pup diluar.
Iya betul dia pup di kandangnya.
Disitu gue sedih, karena yang gue tahu kalo kucing udah pup di kandangnya berarti dia udah ga sanggup ngapa2in.
ya, artinya umur dia udah ga lama lagi.
Kondisi mata mikha udah sembuh, udah ga berkerak lagi setiap paginya.
Tapi luka di lehernya makin besar :(.
Disaat yang bersamaan aplikasi beasiswa gue diterima, dan mau ga mau gue harus ninggalin dia.
Dengan menyerahkan kepengurusan mikha ke adek gue.

Pas gue mau berangkat gue bilang ke dia.
di surga lebih indah mikha, maaf ga bisa nemenin kamu sampai akhir.
Iya, gue udh ikhlasin mikha.

Well, 4 Hari gue di lampung.
Dan gue dikabarin adek gue kalau mikha udah meninggal.
Mikha udah tenang ga ngerasain sakitnya lagi.



Rest in Peace.
Mikha
17 Juli 2018 - 4 Agustus 2018.

Note:
Kenapa gue namain mikha?

Waktu Gue SMA ada film dengan judul mika.
Pemeran utamanya Vino.
Dia mengidap aids.
Walaupun udah divonis bakal mati cepat dia tetap semangat menjalani hidup.
Melawan rasa sakitnya.
Dan itu yang gue liat dari kucing kecil yang gue temuin.
Yang akhirnya gue kasih nama Mikha.

Person in picture 2 My Brotha Bimbim

Thursday, July 26, 2018

Cita-cita Jadi Guru



Apa cita-cita kamu sewaktu kecil?
Jawaban paling umum paling Dokter, Pilot, Tentara, Polisi, Penyanyi?
Ya, mungkin itu jawaban yang paling banyak ditemui ketika kamu menanyai anak usia Paud & TK.
Semakin meningkat usia anak, jawabannya akan semakin beragam dan lebih variatif .

Gue merasa aneh sama diri sendiri.
Karena gue merasa gue sering banget merubah cita-cita gue.
Hanya dalam 1 bulan gue udah bisa membatalkan cita-cita yang lama dan menemukan yang baru.
Apakah ini tanda gue memiliki jiwa yang tidak konsisten? duh gue juga kurang paham.
Mari kita tanya aja ke psikolog..
*free memori

Sewaktu kecil cita-cita gue mau jadi drummer.
Ya, entah kenapa suka banget sama pemain drum pada masa itu.
Tapi cita-cita gue itu luntur ketika gue tau harga drum mahal.
Gue yakin orang tua gue sanggup buat beli satu set drum, tapi pasti banyak hal penting yang lebih diperhitungkan.
Dan orang tua gue gapernah bilang engga atau gabakal dibeliin.
Mereka selalu memberi alasan seakan tidak melarang gue.
Contoh paling simpel, gue disuruh nyatet Drum di buku tulis gue buat dibeli pas awal bulan nanti.

Walaupun ga kesampean jadi drummer, tapi gue pernah jadi Anggota Drumband Sewaktu SD, dan Anggota Drum Corps Genta Bahana Samudera sewaktu Kuliah.

Gue juga pernah mau jadi Insiyur Pertanian.
Ini waktu kelas 4 SD.
Gue bilang ke bokap.
"yah dika mau jadi insinyur pertanian"
"jangan aneh-aneh, di jakarta udah gaada tanah kosong, mau bikin kebon dimana?"
yaudah gue cancel itu cita-cita.
Tapi akhirnya gue Sekolah di SMK jurusan Agribisnis Perikanan dan Lanjut Kuliah di Sekolah Tinggi Perikanan. Amazing bukan?

Dan yang terakhir gue Pernah menanamkan Tekat kalau gue mau jadi Guru.
Ini waktu Kelas 3 SMK.
waktu itu gue mewakili sekolah untuk LKS Tingkat Provinsi.
Tapi gue gagal berdiri di podium teratas.
Disitu gue tanamkan tekat, gue harus balik lagi ke sekolah ini.
Untuk membayar apa yang gue belom bisa kasih kemarin.
Walaupun bukan gue yang berdiri disana.

Dan Finnaly, Awal tahun 2018 gue Ikut Seleksi PPG Prajabatan..
Gue melalui semua rangkaian Tes dengan sangat semangat.
Dan memang ini rezeki gue, gue lulus di semua rangkaian Seleksi.

Well, Agustus 2018 gue akan mulai Pendidikan Profesi Guru.
Ajaib? Sudah pasti.
Apakah semua butuh Pengorbanan? ya sudah jelas.
Pengorbanan, Usaha dan Doa.
Gue Percaya Allah akan menjawab semua doa hambanya.
Dan Allah akan menjawabnya waktu yang tepat.



Wednesday, July 25, 2018

Entering Senior High School

The edge of my Junior Highschool it's coming.
I got 29, /40.00 in National Exam.
If i go to Senior Highshcool (SMA) is a big chance i will accepted by popular school.
But i wanna get a job fast after graduated, so i choose Vocational Highschool (SMK).

At that time, VHS i more popular than SHS, because VHS product give us guarantee.
Student who graduated from VHS Has more Ability, Skills, Character, Leadership, Loyalty, And of course Ready to work.
Not just for work, VHS Products can also Continue Their Study to college.

Case Clear, Next.

With that score is difficult to get major that i want (Computer Engineering).
So in the 2nd option i choose Machinery Engineering, and Heavy Equipment Engineering in the 3rd Option.

In the 2nd day of Process Reqruitment, my name was gone from Computer Engineering list.
Its comes on Machinery Engineering List, until the last day my name still at Machinery Engineering.
So I Accepted in Machinery Engineering Major 36 Vocational Highschool.

It's time to finishing the process.
I went to school to deliver requirement file and there is something wrong.
There is announcement, that we should register from the very first step.
Because Server is Down.

At this time i change my 2nd Option, I really didn't interest with Machinery.
So i Choose Agribussines of Fishery in 2nd Option.
Just like in the first, my name just kicked from Computer Engineering just by a minute.
So my name appear in my 2nd option until the last day.

You know what? what makes Application Procces must be reschedule from the very first time?
Technically it was Server Problem, Schools can't reach the name of their new student.
And it happen in all of Jakarta's HighSchools.

I say it was not Technically, it was my Destiny.
It was My Destiny to Come to Agribussines of Fishery Major.

Thursday, March 01, 2018

Memaksa Berjodoh

Udah 6 bulan selepas gue wisuda.
Ga kerasa banget sumpah deh.
Padahal rasanya baru kemaren mulai bikin propo KIPA (Skripsi).
Sumpah klise banget haha.
abaikan aja...

Selama enam bulan ini gue bukannya engga ngapa2in.
Gue banyak ngapa2in malah.
Tapi target gue supaya dapet penghasilan blm tercapai.
Sedih sih, tapi gue tetep berusaha.

Bokap pernah bilang, kamu udah kuliah susah2.
Udah tinggi2, apalagi 4 tahun di asrama.
Pake baju dines, yang perjuangannya ga mudah (u know what i mean).
Sekarang bukan waktunya ngerjain hobbi kamu ngurusin ikan.
Tapi gimana bisa ngasilin uang, seenggaknya buat kamu jajan.
Bagus lagi buat kamu lanjut kuliah, dan jajanin adek2.
Ayah ga minta banyak kok mas.

Sulit men.
Gue seperti terjebak dalam ruang realistis dan idealis.
Gue ga idealis buat terus ada di zona ini.
Tapi gue ga bergerak menuju realistis untuk cari jalan lain.

2 Bulan setelah lulus gue menjalani magang di sebuah instansi mandiri.
Instansi ini memproduksi benih ikan konsumsi, ikan patin.
Ya karena skripsi gue dulu konsen nya ke ikan ini.
Setelah magang gue belum bisa langsung menuju lokasi tempur gue.
Karena masih tahap pembangunan, akhirnya gue istirahat lagi di rumah kurleb satu bulan.

Bulan januari gue dikontak sama yang punya lokasi kalo barangnya udah siap.
Yaudah gue berangkat ke luar kota (depok).
Priuk - Depok, udah bisa dibilang kerja di luar kota lah ya haha.
Disini gue mempersiapkan perlengkapan penunjang operasional, sampe akhirnya siap memproduksi benih.
Pertengahan bulan januari gue udah mulai produksi, dan bisa panen di minggu pertama bulan februari.
Gue ga panen banyak, bahkan ga sampe 10% dari jumlah ekor awal tebar.
Tapi masih dimaklumi, dan masih dianggap keberuntungan pemula.

Siklus kedua, ketiga gue mengalami anjlok parah.
Masih beli larva dan ga sampe ke titik panen (flushing).
Menuju ke siklus 4 dan 5 gue nyoba pakai induk yang udh dibeli sewaktu masa siklus ke 2.
Tapi hasilnya nihil.
Gue udh pesimis. mulai berfikir rasional beranjak ke realistis.

Akhirnya Gue hubungi pembimbing gue.
Gue ngasih tau kalo gue mau resign dari sini.
Tapi beliau malah ketawa. "gimana sih kamu dik, payah".
Gue ga marah diketawain beliau, justru gue berfikir, Iya juga.
Terus beliau juga bilang, kalau mau resign paling engga tunggu sampe sekali panen.
Besok ikut prosesi pemijahan di tempat saya. biar tahapan dan alurnya inget lagi.

Tadinya gue udang ngelipet semua baju dan siap dimasukin ke tas.
Tapi lipetan bajunya gue masukin lg ke lemari.
Yaudah satu siklus lagi.
Abis ini baru pulang.

Gue ga nyerah sih.
Gue cuma berfikir, kalau gue disini terus kapan gue bisa punya tempat usaha sendiri.
Penghasilan aja blm jelas, menuju kata stagnan aja tipis banget harapannya.
Gapapa lah gue jadi karyawan kantoran 7-16.
Seenggaknya gue bisa kumpul uang untuk menuju Hatchery Sendiri.

Bergeraklah dari zona nyaman~
Fourtwnty

Sunday, December 24, 2017

How i met you (Safrina)

First Sight

21 September 2013
Hari itu hari yang benar-benar panas
Saking panasnya satu bayangan yang muncul di kepala ya cuma buat berendem di air.

Kemiliteran kedua, kita ga pakai sepatu pdl.
karena mayoritas sepatu kita rusak seusai kemil yang pertama.
Akhirnya kita kemil menggunakan sepatu olahraga.

Beberapa rangkaian kegiatan udh kita lewati.
Mulai dari apel pagi, lari keliing lapangan, sampai upacara lapangan lainnya.
Sampai akhirnya tiba senam senjata (ga pake senjata beneran sih).
Di fase ini gue udh bener2 lelah, lelah pikiran.
Lelah fisik, lelah batin juga kayaknya.

Seusai senam senjata, kami semua duduk mengelilingi pelatih.
Mendengarkan beliau menyampaikan motivasi.
Sebagian dari kami banyak yang tidak sanggup dan akhirnya tumbang.
Yang tumbang dibawa ke tenda pertolongan di dekat lapangan tenis.

Ada satu hal yang menarik perhatian.
Dari arah lapangan tenis, ada satu ekor taruni yang berjalan.
Berjalan di pinggir lapangan.
Ada juga sosok senior yang mendampinginnya dari belakang.
Dan yang enggak habis pikir ternyata taruni ini engga pakai sepatu..
Yang gue denger dari senior itu, ya biar dia cepet sembuh.

Tapi gila mennn, engga pake sepatu.
Fokus gue kembali ke pelatih, karena kalau ketahuan angop bakal disabet.
Sampai akhirnya taruni itu berjalan mendekati barisan kami.
Ternyata dia cantik...

Makan siang
(Sepertinya memasuki 3 minggu basis)
Makan siang kali itu jurusan gue telat turun.
Karena dosen yang mengajar baru mengusaikan kelas pukul setengah satu.
Saat memasuki ruang makan penanting sudah dalam posisi makan.
Piket 6 bilang ke ketua kelas kalau kami dipersilahkan mengambil makanan sendiri (prasmanan).
Sewaktu ingin mengambil nasi, gue papasan sama taruni yang waktu itu debus
Namanya safrina.

Sayurnya engga dimakan?
(5 minggu basis)

minggu siang, kami makan menggunakan pakaian kemeja kotak2.
belum lama ini program makan kami diubah.
Jadi taruna duduknya bersebrangan dengan taruni.
Waktu itu taruni duluan yang masuk.
Jadi taruni udh duduk kita taruna yang pilih mau duduk dimana.
Dari arah pintu ruang makan gue udh perhatikan mau duduk dimana.
Ternyata gue lihat si kaca mata.
Gue bergegas untuk duduk di depannya.

Yep, akhirnya gue duduk di depannya.
Orangnya flat, tanpa ekspresi.
Bahkan ketika gue ingetin kenapa sayurnya ga dimakan dia cuma diem.
Pas dia udh selesai makan, dan bergegas pulang.
Mug nya tertinggal, isinya makanan yang dibawa buat temennya yg sakit. (Ngetrup)
Gue agak ragu2 buat manggil, tapi bakal lebih susah kalau nganter itu ke wismanya.
Ya akhirnya gue panggil "Safrina!!"
dia nengok, dan gue kasih mugnya, ini ketinggalan.
Dia cuma bilang makasih, dengan muka yang masih super flat.

Di poli bareng
(satu minggu sebelum pembaretan)
satu malam sebelumnya gue jatoh di lorong wisma.
dan kaki gue bengkak.
di samping gue ada si kacamata itu.
Kayaknya dia sakit juga.
iya lah kalau ga sakit ngapain kesini.
Setelah semua taruna/i yang sakit selesai menerima pengobatan kami bergegas pulang ke wisma.

Satu hal yang perlu diingat kalau habis dari poli ya fotocppy surat sakitnya.
pas udh mau sampe kantin tengah, gue tanya ke si kacamata.
ga mau fotocopy surat sakitnya?
dan kampret dia malah jalan terus ke arah wisma.
Yaudah gue fotocopy surat itu sendirian.

Longmarch.
ini pas saat turun gunung seusai kegiatan pembaretan.
Kami semua longmarch sambil bernyanyi.
ada satu kejadian dimana satu pleton ga nyanyi dan dihukum pelatih.
Seketika barisan jadi berantakan karena takut sama pelatih.
Dan ternyata si kacamata ada di belakang gue.
gue mau ngajak ngobrol, tapi gue takut dicuekin lagi, kayak beberapa kejadian sebelumnya.

tiba2 tauzi (tede gue) nanya ke gue, ted tolong bawain dulu ponco gue dong, soalnya tas gue penuh.
oke ted sini gue bawain.
dan tiba-tiba dia narik2 tas gue.
iya dong bawain tas gue soalnya berat.
gue jawabin "ih males banget, pasti berat juga kayak badan lu yang gede"
ih enak aja.
terus gue tanya lagi "emang kenal nama gue siapa?"
ternyata dia kenal "tau kok, dhieka tak kan?"
gue seneng banget ternyata dia kenal gue.
tadinya gue mau bawain tas gue, tapi takut di ciein sama tauzi.
akhirnya gue bilang, engga ah males berat. bawa sendiri aja hehe.
(btw belakangan gue tau kalau dia ternyata tau nama gue dari nametag yg ada di tas gue -.-)

di spot pemberhentian pembaretan gue ketemu lagi sama safrina.
gue ledekin dia eh gue abis makan gorengan dong.
dia bilang ah curang ga bagi2.
bodo :p.

dari situ  gue selalu merhatiin dia.
mau banget ngobrol2 banyak sama dia tapi lagi kumpul daerah.
iya dia anak sulawesi, perkumpulan celebes.
agak ngeri kalau sama mereka.
*if you know what i mean

Singkat cerita liburan udh mau tiba.
Pas turun dari kelas gue ketemu sama dia.
dan gue nanya, nanti pulang kampung saf?
iya dik.
oiya jangan lupa oleh2 ya hehe, eh saf minta akun twitternya dong.
gue kasih kertas dan pulpen, diapun tulis usernamenya.

nanti follback ya saf hehe.

Person in this story


Thursday, August 24, 2017

Berani karena takut

Terdapat ketimpangan dalam judul yang gue tulis ini. Tapi emang nyatanya gitu sih. ya at least dalam hal-hal yang udah gue lalui. Gue bisa melakukan sesuatu karena diawali dengan rasa takut. Gue bisa berenang atau berani untuk mau coba berenang karena gue pernah hampir tenggelam (kecemplung lebih tepatnya) di bak mandi rumah nenek gue. Atau gue mau belajar dan bisa untuk paham tentang IT & Graphic Designing ya karena takut gaada hal lebih yang gue punya dibanding orang lain.

So you can find your excess from your fear. Just learn without (f)(b)ear broo.

Waktu itu lagi musimnya mainan mobil-mobilan yang ada kuncinya. Jadi fungsi kuncinya itu untuk melontarkan mobilnya. Ini jaman kelas 6 sd. Gue bela-belain engga jajan seharian buat beli mobil2 itu keesokan harinya. Setelah gue beli mobil ini gue mainin di sekolah, dirumah dan dimanapun. Adek gue bim-bim gue kasih satu dari 3 mobil yang gue punya. Mobil andalan gue yang warna hitam, karena ini yang harganya paling mahal (waktu itu enam ribu rupiah). Singkat cerita gue ga puas hanya dengan melontarkan mobilnya di lantai (di darat) dan gue coba mainin di ember ternyata mobilnya bisa mengambang. Dengan keputusan singkat gue coba lontarin mobilnya di bak kamar mandi nenek gue yang dalam nya hampir dua meter. Gue ajak adek gue bimbim buat mainin ini di kamar mandi. Gue mulai memasukan kunci ke bagian belakang mobil dan siap untuk melontarkannya. Ketika gue tekan tombol pelontar mobilnya segera melaju, dan ternyata mobilnya menuju ke dasar kolam. Aduh ini mobilan mahal masa kecemplung sih, dengan nekat gue ambil itu mobil. Tapi semua diluar kendali ternyata gue kepeleset dan setengah bagian tubuh gue udah masuk di air. Tinggal kaki gue yang masih diatas karena nyangkut di bagian ujung kolam. Yang ada di dalam pikiran gue saat itu, gimana caranya gue bisa naik keatas. Yang gue denger adek gue histeris teriak-teriak, dan enggak lama badan gue ada yang narik. Gue digendong dan langsung dibawa ke ruang tv. Mobilannya berhasil gue ambill, dan disitu gue takut banget. gue takut diomelin. Karena hanya satu mainan dengan harga enam ribu gue hampir mencelakakan diri sendiri. Dari situ gue dinasihatin, kalau mainan harus dilihat kondisinya, kalau cuma karena mainan murah yaa biarin aja. Mamah pasti beliin lagi kok. Dari situ gue tau, kalo gue bakal pertahanin apa yang bener2 gue suka. Apalagi gue tau perjuangan untuk bisa beli mobilan ini gue harus engga jajan sehari full untuk bisa beli di keesokan harinya. Dan dari sini gue mau untuk bisa belajar berenang. Supaya apabila ada hal yang gue suka jatuh lebih dalam dari ini gue bisa menggapainya.


Bahasa inggris, satu pelajaran yang gue kurang suka. Kenapa kita harus belajar bahasa inggris. sedangkan nilai mata pelajaran bahasa indonesia aja masih rendah. Suatu hari di kelas bahasa inggris kelas 3 smp, gue bercanda-canda sepanjang mata pelajaran berlangsung. Dan tiba saatnya sesi tanya jawab, guru gue dengan random menunjuk siswanya dan menanyakan apa arti dari kata yang dia sebutkan. selagi bercanda-canda tiba-tiba gue yang kena tunjuk. dan dia menanyakan apa arti dari sentences. seketika gue diam, satu kelas pun ikut menghening. hampir 15 detik gue diam tertunduk enggak berani menatap wajah guru gue, dan akhirnya gue bilang, saya gak tau pak. Gue pun di setrap di depan kelas, temen gue ketawa kecil ngeliat gue di setrap. Dari situ, gue mau nunjukin kalo gue bisa, gue harus bisa belajar bahasa inggris. Gue sadar, gue sering main game dan gamenya bahasa inggris, gue bisa kok. Gue juga seneng denger lagu bahasa inggris dan gue bisa. Lalu kenapa gue gabisa bahasa inggris. Gue mulai memahami satu demi satu kata yang ada, gue juga nabung buat beli kamus kecil jadi gue bisa bawa kemana-mana. dan setiap nemu kata yang gue gatau gue langsung cari artinya. Well sekarang gue lumayan bisa bahasa inggris, walaupun masih mentah, tapi untuk speak gue udh berani, untuk writing juga udah lumayan. Yaa lumayan dibanding engga sama sekali.

kelas 2 smp, ada PR mata pelajaran IPA. Kita ditugaskan membuat kliping, dan lagi2 ngerjainnya ke warnet. Btw gue ga terlalu ngerti gimana cara mengcopy gambar dari internet ke file word. dan kebetulan temen yang gue ajak buat ngerjain juga engga ngerti2 amat. Disitu gue dititipin tugas sama temen2 gue yang lain, ada 6 orang yang nitip ngeprint sama gue. selama 2 jam ngewarnet gue pulang dengan tangan kosong karena gue ga ngerti gimana cara ngesave nya. keeseokan harinya, seperti biasa gue berharap kalo guru ini gamasuk, kebetulan guru killer banget, pake banget. Temen2 udah nanya, dik mana tugasnya? gue cuma bisa jawab, kemaren pas gue ngewarnet komputernya kena virus, jadinya file nya rusak. sumpah alasan klasik banget.
Tiba2 guru nya ternyata masuk, Bu Endang. detak jantung gue berdebar ga beraturan. Udah gitu kata beliau saya panggil secara random, dan shit ternyata nama gue yang pertama dipanggil. Gue cuma bisa jawab, maaf bu saya belum selesai. Disitu gue dibentak dan gue nangis, gue disetrap di lorong lantai tiga, semua guru dan anak murid yang lewat nanya gue kenapa dik.
Selesai pelajaran Bu Endang manggil, Dika, saya kasih kamu kesempatan sekali lagi.
Pas gue masuk ke kelas, temen2 ngetawain gue, ngapain lu nangis dik. hahaha
Disitu gue bertekad, gue harus tunjukin kalo gue bisa...

Hari ini tanggal 24 Agustus, dan di tanggal 4 September nanti gue bakal di wisuda, yap men, gue Sarjana. Gue adalah orang yang gabisa jawab apa arti sentences waktu kelas 3 SMP, atau gue orang yang nangis waktu dibentak guru pas kelas 2 SMP. Semua jalan yang gue lalui bener2 emejing, bener2 ngebentuk gue buat jadi pribadi yang lebih kuat. Hadapi dunia~