Memilih Bahagia

Potret pendidikan di indonesia.
Biasanya dipengaruhi oleh rasa Gengsi.
jarang sekali anak manusia di bumi pertiwi ini.
yang benar-benar jatuh pada pilihan hati.

Atau terkadang, ada suara sumbang yang menyerka.
Pilih apa saja, yang penting disana.
iya betul, enggak penting jurusannya.
yang penting kampusnya, universitasnya.

Atau terkadang, kampus itu kampus keluarga.
maksudnya, uyut, kakek, ayah..
semua menempuh pendidikannya disana.
Kamu gak boleh memutuskan tradisi keluarga.

Benar-benar dangkal.

Atau terkadang, masalah materi.
ini yang agak susah untuk ditoleri.
Sang anak paham bahwa dia berisi.
tapi tak mau membebani.

**

Pernah dengan suatu cuitan dari orang yang lumayan terkenal.
"kalau anak anda nilai seni-nya 90 dan matematikannya 60, apa yang ada lakukan?".
kebanyakan orang tua akan memfokuskan anaknya agar belajar matematika lebih intens.
Bahkan tak jarang, anaknya dipaksa untuk les di pagi siang dan malam.
Agar nilainya di semester mendatang bisa seimbang.
Percaya deh, manusia enggak diciptakan untuk bisa ahli dalam segala bidang.

Itu yang mungkin terjadi di bangsa kita saat ini.
Manusia seakan ingin bisa semua.
Melakukan semua, apalagi yang berkuasa.
Lalu bagaimana rakyat kecil?
iya bisa juga semua..
Menangis, menderita, meratap semuanya mereka lakukan.

Masuk kuliah karena terpaksa.
Menjalani 8 semester yang bukan diri sendiri itu susah lho.
Ketika lulus, dipaksa lagi untuk bisa membangun negeri.
Kalau awalnya bukan dari hati, apakah bisa di amini?.

Krisis SDM.
Akhirnya, berdampak di dunia kerja.
Melakukan yang bukan passion.
"ah, yang penting absen, masuk kerja, pulang deh"


**


Gue sendiri merasa seperti itu.
Gue kuliah di tempat yang bagus, bagus banget.
Tapi ini bukan tempat gue.
Terlepas dari garis takdir yang telah di tuliskan oleh Tuhan.

Banyak orang diluar sana yang lebih pantas di posisi ini.
Bayangin aja, makan tidur gue.
Listrik dan air gue.
Semua dibiayai negara.
Yang notabene, diambil dari pajak.
Mungkin aja pajak-pajak ini dari orang yang lebih susah dari kita?.
Udah gitu kuliahnya gak pake hati.
Aduh sungguh merugi..

Terus bagaimana untuk menjadi yang terbaik?.
Di putih abu gue udah cukup mendapatkannya.
Sekarang gue lebih menekankan jiwa.
untuk jadi diri sendiri saja..

Di akademik emang gue seperti menyerahkan saja pada takdir.
di kegiatan ekskuler, banyak banget yang gue dapet.
Tentang bagaimana bisa bekerja di bawah tekanan.
Tentang bagaimana menghubungi atasan.
Tentang bagaimana bekerja dengan team.
Tentang bagaimana membagi waktu.
Tentang bagaimana memilih kebutuhan atau keinginan?.
Tentang pengembangan diri, dan melakukan yang elu suka.

Di sela-sela kehidupan asrama.
gue banyak menghabiskan waktu menatap layar kaca.
mendalami apa yang benar-benar gue suka
dan yap gue bisa.

Kalaupun gue engga kerja sejalur dengan pendidikan ini.
gue udah siap, gue punya pegangan.
Tapi apakah dunia kerja bisa menerima
tanpa dibekali dengan pendidikan formal?

bisa kali dik,.
Hidup itu bukan cuma tentang bagaimana kamu bisa melakukan.
Atau kamu mau melakukan.
Tapi, tentang kamu kenal dengan banyak orang..

Kamu kenal dengan seeorang.
dan dia adalah power ranger.
dan kamu suka menggambar.
siapa tahu power ranger nya bosan dengan kostum lama.
Ranger merah : "eh dik, buatin gue kostum baru dong, yang lebih trendy gituu"

**

Sekarang gue pengen habisin satu tahun gue setelah lulus untuk bebas berkarya.
yaa, benar-benar menjalani apa yang gue suka.
bener-bener passion gue.

You Might Also Like

1 comments